Love, Life, and …

By tolde

 

Ketika sang malam melengkapi perhiasan jubah langit …,

dengan permata bintang-bintang,

di lembah itu sang dewi duduk sambil memandang tahta awan-gemawan …,

yang berwarna keperakkan karena cahaya bulan malam itu.

Dan ketika bunga mawar dari dalam kandungan hutan ngarai menjelma …

menjadi seorang pujaan yang di lahirkan oleh tangan bidadari,

kemudian sang pujaan itu menghampiri …

seraya menggenggam tangan dan menatap mata sang dewi,

angin pun membawa gelombang kemesraan berdua ke segenap penjuru dunia.

Mata sayu sang dewi menatap dalam ke arah mata sang pujaan,

seakan-akan ingin memporak-porandakan perasaan,

dan menegaskan kata cinta di dalam setiap ruang gerak kehidupan.

Ketika mulut sang pujaan bergerak dan mengeluarkan kata-kata,

Sang dewi seperti merasakan adanya irama sebuah kata yang masuk ke telinganya,

bagaikan alunan dawai-dawai gitar para dewa-dewa.

Cinta bagai piramida ….

dan abad pun tak mampu menghancurkannya,

dan cinta bagai bunga anggrek …

hingga cuaca pun tak bisa menaklukkannya,

Ia mengagumi daya tarik misteri ….,
tapi jauh di dalam hati sang dewi tumbuh sebuah pengharapan,

semoga tidak akan ada sesuatupun juga yang akan menimpa kekasih hatinya ini.

Sambil merasakan kecupannya dan ketika bibirnya telah bersatu,

ia merasakan kehangatan nafas serta kesegarannya ….

membawanya ke rasa anggur keindahan yang baru saja dipanen dan diperas sarinya

Betapa murah hati seni ‘persahabatan’,

Ketika sang dewi menarik nafas dalam-dalam,

seakan-akan tarikannya ingin membawa pujaan itu masuk ke dalam jiwanya.

Dan duduklah sang pujaan di singgasana hatinya,

agar ia dengan bijaksana dan penuh kearifan menjalankan roda perasaannya.

Dan sang pujaan itu pun hanya tersenyum manis nan menawan … semanis buah arbei


Betapa berlimpahnya cinta sang pujaan …

dan betapa manis harapan keagungan akan dirinya

dan belaian sang pujaan sebagai tanda kemuliaan …,

Dan sang dewi-pun membiarkan saja tubuh sempurnanya dikuasai oleh tangan cinta,

hingga hembusan nafas birahi sang pujaan itu membahana ke penjuru malam.

Ketika sang pujaan hati kini mulai tergerak rasa perlawanan api asmaranya,

dan ketika tangan sang pujaan itu mulai membalut tubuh dinginnya,

dia pun memasrahkan dirinya dalam pelukan sang pujaan,

hingga sang pujaan itu tidak dapat lagi melawan hawa nafsunya sendiri …

dengan hausnya ia meminta air asmaranya, melumat bibirnya, mendekapnya,

meraba dan membelai di setiap lekuk tubuhnya.

Namun sangatlah jauh di dalam hati sang dewi,

ia merasa menjadi yang teristimewa pilihan para penghuni kayangan,

karena hanya dirinyalah ….,

yang dapat menjadi penghuni ruang hampa sukma pencinta,

dan hanya dialah yang dapat bersatu dalam jiwa sang pujaan hati.

Ah.., kau memang sempurna..!

Jika darah ini mengalir sesuai kehendakmu ….., maka mengalirlah ia

Jikalau kaki ini melangkah selain di jalanmu ….., maka lumpuhkanlah ia

Apapun keinginanmu ……., asal jiwaku gembira di ‘padang rumput’ ini,

dan tentram dalam bayang-bayang sayapmu ……..

aku ikhlaskan diri ini untukmu …..

hingga berakhirnya waktu bagi kehidupan umat manusia.

Ciumlah aku, duhai kekasih hatiku..
Dengan perasaan cinta dan gairah, laksana badai angin puyuh di padang pasir,

peluklah dengan kuat belenggu jiwa dalam rantai birahi.

Aku malam ini milikmu, dan esok lusa masih milikmu …

sampai matahari tak bersinar aku masih bersembunyi dalam rongga jiwamu.


Pancaran pesona wajah sang pujaan mulai bersinar menyinari cinta,

sungguh sang pujaan memiliki wajah yang berkarakter …dengan senyuman menawan.
Dan cintanya duduk di atas bukit laksana pengantin remaja,

yang bertahtakan bintang gemintang mengukir angan-angan di hadapan alam raya,

sunyi menyelimuti seakan keagungan cinta telah melolosinya dari kepengecutan

Suara lembut dan tegas ……. menyimpan wibawa kearifan yang tinggi,

telah memecahkan kesunyian

Di hadapan kekasih sang pujaan … kehidupan tempatnya menjadi besar dan indah,

suatu kehidupan yang awalnya pertemuan yang memiliki keabadian

seperti apa yang ia yakini, karena ia yakin mampu mengembalikan kekuatan …

yang telah dianugerahkan harum bunga mawar kepadanya.

Lembut kata-kata itu menerobos masuk ke dalam jiwa,

hingga tanpa sadar air matanya pun mengalir

seakan ikut merasakan kebahagiaan hatinya.

Sang Dewi tidak tahu harus melakukan apa yang pantas untuk kekasih hatinya ini,

sesudah ucapan terimakasih atas segala rasa dan asa ….

untuk menyatukan dua rasa dalam satu ikrar yang tidak bertuan.
”Sudahlah.., jangan menangis kekasihku”,

karena sekarang kau telah menemukan aku,

aku-lah kekasihmu, dan aku-lah sahabat jiwamu.

“Kekasihku… kemarilah..! “

Aku akan memelukmu hingga kau merasa damai, tenang serta aman.
”Peluklah aku hingga aku tertidur duhai kekasih jiwaku..!”

Pelukan yang panjang dan suci dari dalam cinta yang suci pula,

laksana kecintaan sang dewa-dewa pada keindahan dan keabadian.

Tinggalkan Balasan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.