Malam begitu tinggi …
Dingin begitu sempurna
“Demi Tuhan” yang telah menciptakan kekasih dalam keindahan…, dan …………
“Demi Cinta kita !”
Engkau menggenggam tanganku,
Menyerbu mataku, menyerang dadaku …
Lalu sebuah kekuatan, mungkin sebuah ‘energi aneh’ datang
untuk membasmi rasa kantuk menjadi hidup dan bergairah
Engkau meraih dengan keindahan …
dan kehangatan rindu yang membara,
membuat kita lupa pada pertengkaran dan kelemahan
Dikepung gerimis hujan dan malam,
jiwa dan tubuh kita bersatu dengan gelora remaja
saling berdekapan membahasakan kerinduan,
dengan bahasa tubuh yang gemetar oleh ratusan panah dan api asmara,
kadang kita tak tahu dimana bumi yang sedang kita pijak
Lidah kehausan kata, telinga menjadi tuli, dan
mata kita buta
Kita bersama seakan bumi lain terhampar di awan
menggelar panorama firdaus dalam sukma kita
Mungkin puluhan atau bahkan ratusan tahun lalu,
kita adalah sepasang pengantin pada sebuah taman
yang jauh di sebuah dunia yang lain
Hanya beberapa tahun belakangan,
kita lahir dari dua rahim ibu yang berbeda
untuk merasakan keterpisahan
Kemudian kita bertemu kembali untuk bersatu,
berdekapan erat tanpa selembar ingatan yang sanggup membuat jarak
Kedua lengan kita saling melingkar,
dan kamu berkata:
“Dadamu menekan kuat payudaraku, lalu aku sesak napas
karena kuatnya pelukanmu dan kau tertawa,
dan aku ingin bicara dan kau sumpal mulutku dengan kebodohan
dan gairahmu,
hingga aku bisu dan kau terus memburu dan memburu”.